Berburu Tuyul Dan Babi Ngepet

Di suatu pemukiman penduduk di daerah Jakarta Selatan beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2007, warganya pernah resah, bahkan keresahan itu hampir mencapai satu kelurahan. Pasalnya, di kawasan ini para warganya sering kehilangan uang secara misterius dan aneh.  Uang warga yang ditaruh di rumah masing-masing itu hilang rata-rata hanya satu atau dua lembar saja, setiap orangnya.

Adalah Badi, salah satu warga yang sudah kenal dengan aku dan Ust. Ahmad, dia datang kepada kami untuk meminta tolong dan bantuan kami.

“Saya dan warga yang lainnya bingung, apa sebenarnya yang telah terjadi di kawasan kami”  ujar Badi kepada kami saat mulai bercerita.

“Saya datang kepada Bapak-bapak mewakili warga yang lainnya, meminta tolong kepada Bapak-bapak untuk datang ke tempat tinggal kami” tambah Badi lagi.

Selanjutnya dia memberikan penjelasan kepada aku dan Ust. Ahmad, bahwa warga di daerah tempat tinggalnya, sudah banyak yang curiga tentang keberadaan tuyul dan babi ngepet sebagai pelaku atas hilangnya uang para warga selama ini.

Lalu Badi menjelaskan pula, bahwa dua hari lagi adalah malam Jum’at, nah pada malam Jum’at itu seluruh pengurus RT (ada 14 RT) dan seluruh pengurus RW (ada 8 RW), para mandor kampung dan petugas keamanan sudah sepakat untuk berkumpul di kawasan tersebut untuk melakukan ronda dan patroli kampung dalam rangka mencari informasi dan tindakan proaktif dalam menghadapi “teror” ini.

Menurut Badi, uang warga yang hilang hampir semuanya terjadi pada malam Jum’at.

Aku dan Ust. Ahmad masih diam, aku masih menganalisa dalam hati, apakah benar terjadinya kehilangan uang itu setiap malam Jum’at? Aku berpikir apakah ini hanya sebuah kebetulan saja, tetapi Badi justru malah tidak terima dengan argumentasiku yang mengatakan itu hanya kebetulan.

Argumentasiku sebetulnya hanya sederhana saja, di malam Jum’at adalah malam yang istimewa bagi sementara umat Islam. Misalnya mereka membaca surat Yasin, tahlilan, dzikir berjamaah, muhasabah, renungan, syukuran kepada Allah dan lain sebagainya.

Tapi di saat yang sama ada juga manusia yang sering melakukan suatu ritual yang menyimpang dari ajaran Islam. Apalagi bila itu malam Jum’at Kliwon, keseringan di malam ini dipakai oleh orang-orang yang “bingung” dengan keyakinannya melakukan ritual. Hal ini terkadang membuat kita hanya mesam-mesem dan menggelengkan kepala saja melihat ulah mereka akibat ketidak-mengertian dan kedangkalan akidah.

Contoh kasus kedangkalan akidah misalnya, di malam Jum’at kliwon ada saja orang yang hobinya memandikan benda-benda pusaka dengan membakar kemenyan yang baunya sangat menyengat hidung dan menyesakkan dada orang yang menghirup asap kemenyan itu. Padahal bila mereka mau sedikti saja menengok pada adat istiadat leluhurnya, mereka mungkin pasti menghentikan ritual yang telah jauh menyimpang dari kebiasaan para leluhurnya itu.

Konon, para leluhur mereka biasanya di malam Jum’at kliwon itu tidak memandikan benda-benda pusaka yang “mati” itu, tetapi mereka justru lebih senang memandikan diri dan hatinya yang telah kotor dan mati dengan cara mandi taubat pada Gusti Allah. Air mata mereka sering meleleh membasahi kedua matanya, pipinya bahkan sampai ketubuhnya.

Mereka sering menyanyikan “kidung malam” yang membuat hati keras jadi lunak, yang membuat orang zholim jadi sadar, yang membuat para rampok jadi sadar, yang membuat sesuatu jelek jadi bagus dan baik. Dan masih banyak lagi yang lainnya akibat dari pengaruh kidung malam.

Apakah kidung malam itu? Menurut saya, setidaknya begitulah, bahwa seorang manusia yang telah dekat dengan Robb-nya, Gusti Allah, dia akan selalu berusaha “bernyanyi” di malam sunyi, mereka akan selalu berusaha menyanyikan “kidung malam”, betapapun halangan dan rintangan yang bakal dihadapinya, mereka pasti melawan dan menerjangnya untuk dilumpuhkan sehingga dapat dikendalikan.

Kidung malam yang aku maksud adalah: bisa berupa pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an, Sholawatan, Dzikiran bahkan TANGISAN, RINTIHAN, KELUHAN dan RATAPAN yang mengiba dan memelas kepada Robb-nya, Ilahi Robbi, Gusti Allah Kang Maha Suci. Terutama di malam Jum’at (sebagai penghulunya hari) dan masih banyak lagi ritual-ritual yang lainnya.

Nah, bagi orang yang mendengarkan suara kidung malam seperti itu maka membuat hati yang keras jadi lunak, yang zholim jadi sadar, yang jelek jadi bagus, yang beringas jadi jinak dan lain sebagainya.

Kenapa bisa demikian? Mungkin Kanjeng Gusti Allah langsung mengirim dan memberikan efek positif kepada orang-orang yang telah lupa pada dirinya dan lupa pada Gusti Allah, sehingga dengan demikian maka para perampok jadi sadar, dia tidak mau lagi merampok. Seluruh santet, teluh, tidak akan pernah mempan pada orang yang berkidung malam. Orang yang berniat zholim jadi urung dengan niat jahatnya itu. Orang yang berhati keras akan jadi lunak setelah mendengarkan kidung malam. Dan tentu masih banyak lagi yang lainnya.

Namun, realitas budaya dan kepercayaan yang berkembang di masyarakat, malam Jum’at (apalagi Jum’at kliwon) adalah malamnya “orang-orang jahat” mencari sasaran, malamnya kuntilanak, genderuwo, tuyul, babi ngepet keluar mencari mangsa.

Ah, sudahlah, kita kembali lagi pada masalah pokok: BERBURU TUYUL DAN BABI NGEPET.

Arkian, di malam Jum’at yang telah disepakati Badi dan warga yang lainnya itu, terjadi. Aku dan Ust. Ahmad tepat pukul 22.50 sampai di kawasan tersebut.

Aku dan Ust. Ahmad diajak oleh Badi ke rumahnya Pak Agus (sebut saja begitu), dia adalah Ketua RW 04.

Di rumah Pak Agus telah banyak berkumpul para warga (semuanya laki-laki dengan memegang Handi Talki). Kurang lebih ada 20 orang. Badi memperkenalkan kepada kami, bahwa mereka semua adalah para pengurus RW, Pengurus RT, Hansip, komandan keamanan kampung dan beberapa warga yang ikut berpartisipasi “begadang” dalam rangka mencari solusi kasus kehilangan uang yang misterius dan aneh itu. Kemudian Badi juga mengenalkan kami kepada warga yang berada di situ.

Selanjutnya dengan dikomandoi oleh Pak Agus, semua yang hadir disitu bercerita, bahwa banyak warganya yang sering kehilangan uang secara misterius dan aneh, dan semuanya terjadi di malam Jum’at. Setelah itu mereka meminta tolong kepada kami untuk dapat membantu mereka dalam memecahkan dan menuntaskan masalah ini agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang.

Mereka khawatir para warga akan marah membabi buta bila masalah ini tidak segera diselesaikan dengan tuntas.

Aku dan Ust. Ahmad berusaha menjadi pendengar yang baik dan setia.

“Insya Allah, tapi kami juga perlu bantuan dan dukungan dari yang hadir malam ini, intinya bantulah kami dengan doa agar kami bisa mengabulkan permintaan warga di kawasan ini” jawabku pada mereka.

Setelah musyawarah, akhirnya dicapailah suatu strategi pemburuan terhadap tuyul dan babi ngepet yang diperkirakan para warga sebagai biang keladi dari keresahan yang ada selama ini.

Pukul 24.00 wib, aku, Ust. Ahmad, Badi dan satu orang Hansip pergi menyelusuri kampung. Di sepanjang lorong dan gang kami jumpai beberapa orang pria dengan pakaian gelap sedang jongkok memegang lampu senter dan sebuah tongkat. Ketika kami berpapasan atau berjumpa dengan mereka, kami saling bersapa dan mengucapkan selamat bertugas dengan suara pelan, mirip berbisik. Suasana malam itu seperti sangat mencekam.

Mungkin itulah gambaran keadaan pisik dan psikis mereka yang merasa “diteror” oleh tuyul dan babi ngepet.

Sudah 10 menit kami berkeliling kampung namun belum ada tanda-tanda keberadaan mahkluk yang kami curigai itu.

Tiba-tiba Ust. Ahmad berkata kepadaku; “Ada tuyul tuh, jumlahnya 10″ kontan saja informasi Ahmad kepadaku yang didengar pula oleh Badi dan Hansip membuat mereka sigap.

“Mana pak?” tanya Hansip.

“Itu!” jawab Ust. Ahmad dengan menunjuk ke sebuah kebun kosong yang dipagar tembok.

‘Lalu, bagaimana nih?” tanya Badi.

“Ya sudah kita tangkap saja” jawab Ust. Ahmad sambil meminta aku untuk menangkap tuyul-tuyul itu,

Aku segera berdoa kepada Allah, membaca ayat-ayat Al Qur’an dan: “Laailaaha ilallooh…!” aku tunjuk tuyul-tuyul itu dengan jari telunjuk kanan, dan Alhamdulillah mereka (para tuyul) telah terikat dengan ikatan ghoib. Mereka sudah tidak bisa lagi bergerak.  Mereka diam terpaku di tempatnya.

Dengan idzin Allah Swt kami dapat menguasai para tuyul itu sehingga mereka tidak melawan sedikitpun. Aku membawa mereka seperti orang yang membawa kambing dengan tali. Lalu kami bawa tuyul-tuyul itu untuk berkeliling kampung mencari lagi barangkali masih ada lagi tuyul-tuyul yang lain atau barangkali babi ngepet.

Tidak begitu jauh dari tempat kami menangkap tuyul tadi, kami temui lagi segerombolan tuyul yang sedang kumpul (seperti rapat) dan sedang bersiap-siap untuk berpencar berbagi tugas.

“Laa ilaaha illallooh..!” aku langsung mengikat lagi tuyul-tuyul itu dengan ikatan ghoib. Jumlahnya kali ini ada 35 tuyul.

“Subhaanalloh…” ucap Badi dan Hansip hampir bersamaan ketika jumlah tuyul itu kami sampaikan kepada mereka.

Kami teruskan kembali perburuan. Kira-kira 20 meter dari tempat kami menangkap tuyul yang kedua, Ust. Ahmad langsung meminta aku untuk mengikat makhluk ghoib yang lain, kali ini adalah babi ngepet. Jumlahnya ada 8 ekor. Langsung saja aku ikat dengan ikatan ghoib dengan membaca kalimat tauhid seperti di atas.

Kami berkeliling lagi, berburu lagi. Setelah berkeliling dan berburu selama 1 jam lebih, akhirnya Ust. Ahmad memutuskan untuk kembali ke “markas”, rumah Pak Agus, Ketua RW 04.

Ketika hal itu ditanyakan oleh Badi, Ust. Ahmad menjawab; “Alhamdulillaah, semuanya sudah kita tangkap dan kita ikat…!”

“Ada berapa Pak..?”tanya Badi.

“Seluruhnya ada 250. Dengan perincian 195 tuyul dan sisanya 55 babi ngepet..”

“Lho, banyak sekali, Pak…?” tanya Badi heran.

“Yah memang begitulah, tapi kalau kita mau membaca kenyataan yang ada, sebenarnya kita tidak perlu heran, dalam arti sulit menghindari kenyataan yang ada.” jawab Ust. Ahmad.

Akhirnya kami kembali ke markas, rumah Pak Agus. Setelah proses sidang dan tanya jawab yang panjang kepada para tuyul dan babi ngepet, didapat penjelasan, bahwa memang betul, para tuyul dan para babi ngepet itulah yang telah mengambil uang para warga selama 2 tahun.

Mereka (tuyul dan babi ngepet) mengaku, bahwa mereka hanya disuruh saja oleh majikannya (orang yang memelihara tuyul dan babi ngepet). Para tuyul dan babi ngepet itu mengaku didatangkan dari sebuah gunung yang berada di sebelah timur pulau Jawa. Lalu para dukun mengirimnya ke rumah orang yang  telah “membelinya” setelah memenuhi persyaratan dari para dukun.

Target uang yang mereka ambil dari manusia (para warga) setiap  harinya bervariasi. Mulai ratusan ribu rupiah sampai pada jutaan rupiah.

Para pemilik makhluk ghoib yang zholim dan bathil ini, setelah uang mereka banyak lalu dibawa ke kampung halaman masing-masing. Dengan uang yang cukup banyak itu, mereka membeli tanah, rumah, kendaraan, perhiasan dan sebagainya.

“Akhir-akhir ini banyak manusia yang terjerumus ke lembah semacam ini, mereka ingin banyak uang, banyak harta, banyak kendaraan, punya banyak tanah, punya rumah mewah, tetapi sayangnya mereka tidak mau berusaha dan bekerja keras. Mereka maunya cepat dan instan, sehingga mereka memilih dan mengambil jalan seperti ini, memelihara tuyul atau memelihara babi ngepet dalam rangka untuk mempermudah dan mempercepat hasrat nafsunya yang jelek itu”

“Mereka lupa pada Allah Swt, mereka lupa pada kehidupan setelah kehidupan di dunia. Mereka mungkin punya prinsip dan pandangan yang dangkal, bahwa kehidupan manusia itu hanya di dunia ini saja. Setelah manusia mati, ya sudah…tidak ada apa-apa lagi” tambah Ust. Ahmad lagi.

“Itulah pandangan dan prinsip yang salah, sesat dan menyesatkan, pikiran itu terjadi karena hawa nafsu yang jahat. Hawa nafsu yang buruk karena selalu menuruti syetan. Mereka tidak pernah lagi mau mendengarkan nasehat dari para ustadz dan guru agama. Oh…amat malangnya mereka nanti bila tahu kehidupan yang bakal dialaminya…”

Aku lihat wajah Badi dan Hansip, nampak mereka sangat sedih. Ya, sedih kenapa jalan seperti ini banyak diminati untuk dilalui oleh orang-orang.

Aku berdoa, semoga saja mereka yang telah terlanjur menempuh jalan seperti ini akan mendapat taufiq dan hidayah dari Allah Swt, sehingga mereka bisa kembali lagi ke jalan yang lurus sebelum ajalnya tiba. Amin Ya Robbal’alamiin.

(Ust. Djonaka Ahmad dan Ust. Ahmad Ferdi)

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: